Showing posts with label Mini-Fiction. Show all posts
Showing posts with label Mini-Fiction. Show all posts

Monday, August 18, 2014

Malam Muda

Barang kesayanganku terbelah juta menjadi serpihan-serpihan kesombongan. Terlindas roda-roda malam yang berjalan lurus di pinggir Tol. Padahal sebelumnya sudah datang pertanda buruk. Dalam dua kantung berkancing satu. Kantung kanan alat komunikasi dan yang kiri rokok sebatang. Itu adalah bagian dari jaket tebal kepunyaan malam. Malam-malam pulang dari rutinitas institusi pendidikan. Habis makan kertas-kertas tak bergambar. Tak seperti di sepinggir jalan pulang banyak gambar wanita cantik. Takaran cantik di sini ya itu, bercahaya dan menjulang tinggi agar leher sakit menopangnya. Kecuali, lampu merah yang bercahaya tiga. Fungsinya jelas mengatur dan membatasi langkah kita. Meskipun kadang kalkulasinya kurang adil atau jangan-jangan yang bilang yang musti dibedil. 

Nah, saat merah nyala di perempatan pertama seseorang menegurku, "mas, mas, mas, mas, mas, mas...., rokoknya jatuh tuh." Mendengarnya samar-samar aku jawab sambil tersenyum, "makasih ya mas, tapi gapapa tinggal sebatang." Melihatnya jatuh di tengah jalan, aku tak acuh dan fokus menikmati nuansa seorang teman yang namanya Biru. Dan seketika hijau datang bersyukurlah aku bisa melanjutkan lagi nikmatnya pulang malam. Sudah cukup indah di temani Biru dan rembulan.
Menelusuri padatnya empat lampu merah di pinggir Tol. Sambil mengendus-endus wangi angin malam. "Oh, Bir...." belum sempat kusematkan Birunya, sudah kilat menghilang. Padahal plastik busa masih menempel mono meskipun dengan balutan kain batik dan pelindung kepala. 

Kupingku masih juga belum elok dimanja. Meraba-raba kantung kanan yang cukup sempit untuk menaruh bungkus nikotin. Loh, satu kancingnya terlepas! Dan ternyata alat pemutarnya yang jatuh ditarik oleh gravitasi. Ia pasti kalah bertengkar dengan angin jahat. Langsung bergegas aku menepi ke pinggir jalan. Melihat ke belakang segerombolan mesin-mesin sedang melindas kotak langsing persegi panjang.  Sampai aku meraihnya sudah tak berbentuk wajah lagi. Tak bercahaya dan tak ada bunyinya. Oh, Biru ke mana perginya! Singkatnya, aku bawa pulang saja partikel-partikel tersebut. Sebagai tanda bukti keluh kesah untuk ibu. Kenapa aku baru ingat ibu ketika musik berhenti dan tak mau kembali? 

Sungguh malang tak pernah dengar lagi lagu ibu. 
Nyanyian ibu adalah doa yang bersahaja. 
Sungguh berdoanya manusia butuh tulus, ikhlas dan khusyuk. 
Sebut saja ucap sepuluh kata, mengandainya sudah seribu frasa.
Sungguh mata air kasih sayang yang muncul dari bawah tanah suci, 
lewat doa-doa yang keluar dari dalam buku kalbu milik seorang ibu untuk anaknya.


Sunday, July 27, 2014

Kelap-Kelip Cahaya Dan Gemuruh Takbir

Ini malam senin, malam penghabisan orang libur bekerja. Seperti biasa semua orang berbondong-bondong kembali ke rumah setelah pergi entah ke mana. Yang jelas tujuannya sama. Sama-sama memanjakan hasrat dan keinginan tuntas bekerja. Namun, ini malam bukan malam biasa. Berbeda sekali orang-orang malah pergi sehabis Isya. Menyambut kedatangan hari kebersihan dosa. Besok adalah hari di mana mereka terlahir kembali. Meskipun ada yang mengunjungi sanak keluarga mereka jauh di kampung halaman, ada juga yang tidak pergi. Sibuk main api di pinggir jalan. Dengan bermodalkan bahan peledak, kelap-kelip cahaya nampak di langit hitam. Mungkin cahayanya terlihat dari satelit yang tertuju ke Negeri ini. Hingga ke pelosok kecilnya. Jika dibandingkan, masih jauh lebih benderang cahaya bulan redup dan bintang-bintang kecil. Dan malam ini bintang-bintang tak menunjukan porosnya. Kelihatannya mereka sedang bersedih. Tersaingi oleh kelap-kelip buah tangan manusia. Atau juga takut dan bersembunyi di balik awan penghujan. Bagaimana dengan Negeri tradisi asalnya? 

Sepertinya tak ada kelap-kelip atau dentuman yang terpancar di indera. Hanya ada suara gemuruh Takbir yang menyuarakan kebesaran Tuhan. Tuhan, Tuhan dan kebesran Tuhan semata. Sampai-sampai suara tersebut menggelombangkan semangat ketunggalan Tuhan. Di sini banyak juga yang bergelombang, namun suaranya tidak sekaget dentuman. Saat kelap-kelip muncul, Takbir itu seolah teriris silau oleh bisingnya. Meskipun tujuannya sama, tapi induknya berbeda. Yang satu murni gelombang manusia pada Tuhannya, dan yang satu lagi semangat api pada kobarannya. Ya mudah-mudahan saja orang tidak salah tangkap suara. Ternyata di balik perbedaan itu masih sama-sama menyuarakan energi positif untuk para pengindra.      



Saturday, July 26, 2014

Tunjangan Hari Raya

Seperti biasa sehabis menutup kios saya duduk santai di teras depan rumah bersama istri. Namun, tiba-tiba ada si bujang yang datang berkunjung. Yang ingin menumpang duduk ngopi-ngopi sambil mengajak berdiskusi. Tak lama ada juga si akang tetangga yang datang. Usianya tiga puluh lima tahunan dengan baju berkerah dan celana pendek usang. Ia datang tidak dengan tangan kosong. Membawa dompet tebal berwarna hitam lusuh dengan tempelan stiker buatan sendiri. Sambil mengeluarkan isinya ia menegur saya dengan kata-kata "alhamdulillah abis dapet THR." Katanya uang itu sekitar tujuh ratus ribuan. Hasil tambahan dari iuran sampah bulanan. Sambil menunjuk ke arah sebelah rumah ia menghujat penghuninya, "bapak itu sih pelit ga ngasih THR, iuran saja kadang nunggak." Mendengar kalimat tersebut saya tersenyum dibuatnya. Si bujang ikutan senyum namun sambil menutup mata. Ternyata si akang menghitung uang THRnya dua kali. Cuma membolak-balik gambarnya saja. Istri saya berkata, "banyak banget kang duitnya, jangan-jangan dompetnya juga banyak." Ternyata si akang masih memiliki selipan uang di pinggir dompetnya. Kali ini si bujang kembali tersenyum namun sambil membuka mata. Sehabis si akang menghitung, dimasukkan lagi uangnya dan langsung beranjak pulang. Si bujang berkata, "si akang abis dapet gaji ke tiga belas ya bang?" Saya menjawabnya, "begitulah jang, meskipun cuma memumut sampah, tiap mau lebaran warga kasih iuran lebih seikhlasnya, berbeda dengan saya yang tugasnya hanya menundukkan kepala warga. Tapi saya lebih setuju uang itu dibilang tunjangan daripada gaji." Namun, tiba-tiba saja ada pelanggan yang datang minta dipangkas. Padahal sudah nampak tulisan tutup, tapi saya tetap memangkas karena masih tetangga juga. Dan setelah selesai dicukur, ia memberikan uang seratus ribuan dengan sengaja. Ia berkata, "udah bang simpen aja kembaliannya." Terdiam sebentar saya menyebut alhamdulillah. Dan saat itu juga si bujang ingin pulang. Ia membayar secangkir kopi ke istri saya dengan selembar lima puluh ribuan. Saya ucapkan banyak terima kasih pada mereka. Dan saya suruh mereka agar jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung kembali di saat lebaran datang. Setidaknya untuk mencicipi toples-toples kosong di kios kami.

Sunday, July 13, 2014

Bungkusan

Aku sedang pergi menuju kost-kostan daerah persawahan di perbatasan Kota Jakarta. Sambil di temani Bulan aku membawa dua bungkusan. Jalanan tidak terlalu sepi karena ini adalah bulan pembukaan penuh adat. Perjalananku hampir sekitar tiga puluh menit. Hingga setibanya di depan gerbang cahaya sudah menyambut bungkusan. Ia membukakan segera dan menyuruh aku masuk ke ruang tamu yang dalamnya nampak beberapa kotak persegi tempat wanita menaung hari. 

Sedikit buruk rupa ruangan, ada jemuran dan rak sepatu terpampang di dalam. Ada pula kotak pemancar sinyal tergantung namun fungsinya hiasan. Ucap sedikit percakapan, ia langsung menaruh sepasang alat penyantap di lantai. Akupun membuka bungkusan yang isinya masih hangat. Walaupun sempat tertiup angin perjalanan. Lanjut saja duduk melahap sambil menyuap. Kedamaian saat menyantap sambil menguap. Dan belum selesai bungkusan dikemudikan aku diajaknya masuk ke dalam kotak. Hingga setibanya berdetak di kotak terkejut aku oleh ketukan pintu. 

Ternyata ibu yang datang menyuarakan. Cucuran Keringat kuhapus lekas. Mencoba detak jantung teredam dengan nafas berirama. Kemudian bangkit dan keluar ruangan. Kubiarkan saja ia di dalam kotak dengan sisa bungkusan. Dan seperti biasa meja sudah dipenuhi oleh bungkusan tanpa pengikat.  




Tuesday, July 8, 2014

Mendamai Lapar Dahaga

Ketika sedang memegangi perut kaku berelegi, mataku memandang kuasa Tuhan di bawah payung. Indah bukan Tuhan punya lahan teduh. Semesta pula alam di bawah payung. Dengan berdiameter doa-doa, payung punya segala keabsahan untuk melihat ruang sesak awan petang. Matahari tak tampak di porosnya menyambut tenggelam. Banyak orang berlalu-lalang berhamburan di bawah hujan. Kulihat badan lembab orang-orang tak berpelindung. Sambil diselimuti angin basah penghabisan, mereka punya laju badai. Berdesakan mencocokan jam makan punya pelampias. Mungkin di meja keluarga mereka sayangi. Mungkin juga bersama kekasih yang dicintai. 

Oh ya, dulu sekali aku pernah mencinta. Perempuan jauh di Barat Daya. Andai ia ajak berbuka, kupasti laju bersama mereka. Bayangkan saja Meter berbuka. Dan manisnya Hawa ingatan lama. Aku pikir fungsi payung inilah, tidak dihujani basah ingatan. Lantas payung kujatuhi ke bawah dan masih tetap berdamai bisa. Tidak kehujanan, tidak pula kebasahan. Mungkin damai bisa dengan ingatan, lapar dahaga bukan masalah lagi. Dari pandang jatuh ke rasa, dari akal jatuh ke perut. Ingatan lama jangan di bakar. Tapi dikenang pelajaran datang. Dan seketika Adzan berkumandang, aku berbuka untuk segera.

Friday, June 20, 2014

Bersosial Media

Ada seorang perempuan yang hobinya melarang. Lebih tepatnya melarang bersosial media. Kebetulan memang aku tak suka aplikasi media macam-macam. Tapi ia masih saja senang melarangku memainkan ini itu. Lantas apa yang ia larang dan fungsikan? Awalnya ia konsisten tidak bersosial media juga dan terus melarang serta tidak melanggar. Kemudian atas dasar peralihan cinta ia lari keliling dunia sambil memanjakan mata. Liar sekali pergerakannya. Setiap detik senang memanjakan jemari. Bersama seorang pria yang dikenal dari dunia intelektualnya itu. Intelektual yang seperti apa? Ya intelektual yang fungsinya untuk melupakan. Kandas dalam sela waktu dua bulan saja. Bagaimana jika dibandingkan dengan ingatan tiga tahun dua bulan?
Tepat tiga tahun lalu kita sedang bercengkrama, namun kini tinggal bayangan kusut yang menyangkut di atap rumah. Ada sisi baik yang tumbuh. Belajar banyak hal dari pengguna sosial media. Terutama arti sosial media di antara kelas kata. Aku bersyukur mataku sudah terbuka, meskipun masih menggenggam gadget ternama. Dan meskipun genting kadang bocor kemudian menampakkan bayangannya. 

Thursday, June 19, 2014

Jauh Dari Ibu

​Gadis itu merangkulku, sekadar merangkul. Bagaimana bisa aku manangisi ibu yang sedang bersenda gurau di dalam rumah. Sementara aku berada jauh dari lingkungan rumah. Ada sesuatu yang menyedihkan tergambar di video sepuluh menit itu. Tapi itu hanyalah sebuah citra belaka. Perlukah air mata jatuh untuk ibu yang selalu aku genggam hatinya. Aku tak pernah menyakiti, menjauhi, apalagi memarahi ibu. Kira-kira dosa apa yang membuat air mata ini jatuh menetes di tanah yang jauh. Memang benar orang-orang kebanyakan menangis melihat citra itu. Tapi aku bukan orang yang mudah terpengaruh dan dapat berteluklutut di hadapan emosi Tuhan. Kemudian gadis itu, kelihatannya benar-benar tulus. Merangkul dan mengusap-usap punggungku. Ia berlaku sambil mengucap beberapa kalimat pengulangan, "Udah dikabarin belum mamamu di rumah? Kirim pesan saja kalau belum." Pokoknya ia mengulang-ulang kalimat tersebut.
Sebelumnya tidak ada kesedihan yang hinggap di batinku. Hingga jepretan paparazi dari belakang melucuti wajah penyanyang ibu. Seselesainya kegiatan ini, pikiranku melayang jauh. Ke atas langit mencari embun penyejuk hati. Kebetulan waktu masih menunjukan pukul 4 pagi. Aku berjalan keluar melewati sawah dan menginjak embun wangi. Aromanya tercium segar di bawah redup cahaya bulan. Sambil menyoroti kegelapan, aku mencari-cari si penyejuk hati. Padahal aku hanya ingin berterima kasih padanya. Sudah lama aku tidak dirangkul dalam kesedihan yang polos.
Aku tahu ia memang anak terakhir ibu dan bapaknya. Terlihat dari perilaku kurang bersahabat di sosial media yang ia geluti. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaannya. Sehabis kejadian itu aku menerawang celah untuk menatap bola mata gadis perangkul. Namun, sepertinya biasa saja. Pernah sesekali kugenggam jarinya ketika ia belajar memetik nada. Kucuri pandangannya juga. Namun ia tak kunjung menatapku dalam ruang. Ia hanyalah embun di bumi perkemahan. Selebihnya ia adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Sekarang waktu sudah bergulir begitu cepat. Tak terasa sudah setahun lalu kita berkemah. Bersama bocah-bocah desa yang mabuk doa. Memohon ampunan kedua orang tua mereka. 

Tuesday, June 17, 2014

I Stand On The Boundary

Ayah senang sekali bepergian naik kendaraan umum. Pergi kemana saja maunya naik angkot. Aneh, maunya cuma naik angkot. Ia enggan menaiki kendaraan umum selain angkot. Ia memiliki angkot favorit dengan stiker angka Nomor 1 di kaca belakangnya. Kebetulan juga itu adalah satu-satunya angkot yang lewat  wilayah ini. Selain itu ada satu lagi kendaraan roda empat yang lewat, namun lebih besar muatannya, Metromini. Metromini berstiker Nomor 2 di belakangnya. Mungkin karena ia ditugaskan oleh Dishub setelah angkot Nomor 1 itu. Ayahku tak pernah ingin menoleh ke Metromini Nomor 2 sekalipun. Padahal seringkali aku sudah menyuruhnya untuk menjajali Metromini Nomor 2. Ia hanya akan terus bercerita tentang pak supir angkot yang bekas tentara. Mungkin alasan lain yang membuat ayahku tidak ingin menoleh ke Metromini tersebut adalah gaya blusukan jalan rayanya. Dan kebut-kebutan yang kian makan banyak korban. Stereotype yang salah bukan. 

Aku beberapa kali naik metromini itu dan sedikit bercakap pada supirnya yang berbaju kotak-kotak itu, "Maaf, bapak sudah berapa lama jadi supir metro ini?" Ia menjawab, "sudah setahun lebih nak, dan saya akan naik jabatan menjadi supir bus malam karena kegigihan saya mencapai akses jalan ke daerahmu yang terpencil ini." "Lantas siapa yang akan menggantikan bapak setelah bapak naik jabatan?" "Sepertinya  mas kernet yang duduk di belakangmu itu, dia itu wakilku, suaranya juga lantang." Dan saat naik angkot Nomor 1, aku bertanya dengan menjajakan pertanyaan yang sama. Bapak supir angkot berbaju putih rapi dan berpeci. Menjawab dengan jawaban yang tak jauh berbeda. "Saya ingin naik jabatan karena jadi supir angkot itu hanya untuk beberapa orang, saya maunya jadi supir bus malam saja." 

Tak habis pikir nanti siapakah yang akan mengantar ayahku bepergian? Tapi sampai detik ini, aku masih menyuruhnya untuk mencoba naik Metromini Nomor 2. Agar setiadanya mereka berdua, ayah merasa puas sudah mencoba kendaraan umum yang berbeda bentuknya.