Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Saturday, March 12, 2016

Dara

untukmu yang setia
enggan dipanggil merpati

transit di stasiun lamunan seorang penyair miskin
hendak saling mengikatkan surat di kakinya

kala itu,
mereka membangun sangkar dari ranting dan pepohonan
sebelum memasuki kereta yang menginjak-injak akar
sebelum mendengar riuhnya turbin di balik hujan
dan sebelum "mereka" para penyeberang ternanar
tertabrak kereta kuda berponi yang lamban

ia pun rela tak terbang ke atas
"Jenuh," katanya.
demi mengicip tunasosial ke bawah
di kawasan menengah namun menjulang tinggi
riuh gundah gulana penyuka ramai
di mana polusi ibu kota buat topeng di wajah
dan nostalgia buku-buku romansa
dan sumringah senyum satir di kata

kala itu,
aku diajaknya terbang ke dalam gerbong
melihat gurauan kosong
jauh di mata dekat di asa
kotak-kotak semiotika itu mendesah
hingga kesenyapan turbin perlahan mengunci
kotak-kotak yang sudah berbaris api tertata

kala itu,
bukan tamasya sepulang bekerja

dan malam pun telat pulang,
ia segera terbang ke atas
kembali ke sarangnya di balik awan

Sunday, May 31, 2015

Pergi

Ia malas bepergian namun dikendalikan pergi
Pergi pun kejemuan menasihati
Seberkas rambut bahkan sudah dipotong kompas
Menjaga usam rapi di permukaan

Jika asal mengunyah asa, pergi letih terluka
Jika asal mengunyah rupa, pergi sesuka letih

Menurutku, budi datang akal pergi sesudah asa.
Menurutmu, budi datang akal pergi sebelum asa.
Menurutnya, budi pergi akal datang sebelum asa.

Mereka yang sukar percaya angin
Tak mempersukar pandai menoleh arah
Pergi yang mungkin dikemas rapi
Tak genap masuk, tak keluar ganjil




Saturday, May 16, 2015

Akal Melintas

Waktu adalah ruang. 
Ketika ia dipetakan dengan nurani,
maka tidak sedikit luas yang hilang. Karena nuraninya 
berbeda dengan nuranimu dan nurani-Nya. 

Pernahkah ia bertanya pada keseimbangan? 

Seringkali ia mempertanyakannya. 
Mengulas hal-hal pokok yang membangun dari dalam. 
Dari dalam apa? 
Tentunya, dari dalam akar yang menjalar menurutnya benar. 

Bagaimana bisa ia memahami benarnya benar?

Kebenaran 
yang selalu ia anggap 
sebagai sebuah jalan 
menuju ruang berikutnya. 
Dalam interval yang memadai, 
ruang itu pun hanya disinggahinya belaka. 
Ia merangkai setiap kisah 
bias dalam ruang intuisi benar. 

Seberapa biaskah intuisi benar?

Perlawanan benar pun, salah. 
Ia menjamah fikrah secara berlebih 
di antara semua hal salah atau benar. 
Jika melakukan tinjau muatan nurani di dalam citra, 
dapat dipastikan keduanya melebur jadi satu. 
Bahkan citra sudah menjalari nurani berwujud 
yang menskemakan citra nurani.

Tak dapatkah kau sederhanakan lagi penjelasan tersebut? 

Intinya, ia selalu ingin mengajakmu bepergian 
Hingga masuk ke dalam ruang yang menurutnya benar. 
Namun sebelum menurutinya,
adakalanya bawalah ia pergi
bertamasya ke kebun akal melintas.




Saturday, April 18, 2015

Dalam Doa

Kaki yang mungil berlari-lari
Lembayung jingga di batas luka






Mencari daun yang berguguran
Melarungkan pelukan dalam Doa



Wednesday, March 25, 2015

Nafkah Batin

Di balik gerbang wisata
Nampak usang jendela kami
Kaca tua mendebu 
Sedang tertiup angin beralih

Redup binar pagi masuk melalui kaca jendela
Terlindung gorden di baliknya, 
Ia masih tersungkur
Ia pulas mendengkur

Ayah membesarkannya di ladang yang berpunya
Memandikannya di tambak
Memberinya makan belut
Namun tidak mengajarinya seruput 

Lain ladang lain hati,
Lain lubuk lain perangainya

Ia bekerja paruh waktu menanam nada dan doa
Ayah pun acap kali duduk di teras 
Memandang doa awan berarak
Menunggu nada rintik-rintiknya 
Senyampang melangit 
Membuat syahdu dalam renungan

Jikalau ayah mahir bercakap 
Ia, patik berdatang sembah
Guna turut jejak Abi
Sembunyi di dangau tua

Namun kini,
Ia ternanar
Ladang paceklik
Ayah pensiun dini 
Berhenti merinai hujan halau mentua
Dengung syair lama yang menua
Syair suci
Firman illahi






Tuesday, March 24, 2015

Doa

Doa pun malas menjawab, 
ketika di sana muncul kelakar Doa, 
maka Doa pun malas berdoa.


Doa pun rajin mendoakan ibunya, 
ketika ibu berasing ke dusun, 
maka Doa pun membilas limbah kasih doanya.



Kini, 
Doa pun mencari peraduan, 
ketika tulang ringan tuju merimba, 
sayap singkat mengepak-ngepakkan doanya.


Thursday, February 12, 2015

Jenguk, Aku Sedang Sakit

Akhirnya, kau datang juga
Aku memang perlu dijenguk
Mengapa kau baru datang?

Mataku coba kau lihat
Biru seperti langit
Bukan samudera 
Kadang mendung
Kadang cerah
Kadang murka
Merintih terguyur air

Coba perhatikan bibirku
Penuh lilin bukan
Tengok ke dalam sedikit
Harum melati bukan
Ada pagar berlian yang menghiasi
Menerangi kegelapan gua garba

Tapi, cermin ini kau dapat di mana?


Wednesday, February 11, 2015

Hidup

Hidup tak selalu berbicara soal tipu daya
Tetapi busur yang mengarahkan jiwa
Sudut lancip anak panah 
Yang haus darah
Ke dalam minuman kaleng
Yang lapar sasaran
Ke dalam makanan siap saji

Ruang 
Waktu 
Pusaran 
Tombak tumpul

Jika jejak langkah dapat diamati
Hidup akan selalu berbicara
Berjuang dan meneliti
Hidup


Wednesday, January 28, 2015

Lukisan Awan

Aku ingin bertanya pada para pendoa
Adakah halu kau rasa ragu
Aku ingin bertanya pada para pendosa
Adakah gelombang kau rasa lurus
Aku ingin bertanya pada para pendua
Adakah mata kau rasa iba
Aku ingin bertanya pada para orang tua
Adakah anak kau rasa domba


Retorika

24 jam kali sehari
Mati kau dikoyak-koyak wacana


Tuesday, January 27, 2015

Mbak

Mbak, jangan kau lari 
Kau bisa saja jalan dan berteduh Sembunyi di balik pohon emas

Sambil bernapas diam-diam 
Kau boleh petik buah logamnya
Sambil mengecap waktu senja 
Kau boleh kupas kulitnya sembarang
Tapi, sebelum bijinya tampak
Sadarkah kau sedang dilibat

Sebagaimana dirimu
Yang terlahir cacat tanpa noda 


Saturday, January 24, 2015

Sepi

Saat aku mandi di sungai
Sepi, suara gemercik air

Saat kekasihku mandi di sungai
Ramai, semak-semak bergoyang 

Saat aku pergi ziarah ke makam Mbah 
Sepi, tak ada duka cita teman

Saat kekasihku pergi ziarah ke makam suaminya
Ramai, isak tangis berkacamata

Akhirnya aku memutuskan,

Tetap mandi di sungai 
Tetap pergi berziarah 







Ide dan Citra

Kau

Berpikir
Berdzikir

Berlendir

Kau hidup
Kau mati
Kau benar
Kau salah
Kau jujur
Kau bohong
Kau yakin
Kau ragu
Kau beri
Kau terima

Bermata
Bersesat

Berbahagia

Kau
Bukan manusia




Monday, January 19, 2015

Sekumpulan Kekasih

Ada sekumpulan kekasih
Sedang membicarakan para kekasihnya
Yang memaksa bergulat demi dirinya
Yang memaksa berbagi demi dirinya

Merekapun senang dipaksa
Mencari kain sutra 
Memburu kulit baja 
Menggali tanah logam
Mencuri mahkota kerang 

Merekapun juga rela tak pulang
Berhari-hari 
Berminggu-minggu 
Berbulan-bulan
Bahkan bertahun-tahun
Hanya untuk dikelabui
Mukanya yang durja

Sebetulnya
Sekumpulan kekasih adalah mereka
Semata-mata mereka berkumpul
Dalam ilusi dan retorika
Harga mati
Oposisi
Lingkaran
Cinta sejati


31 Desember 2014 17:00

Mereka Tetap Mereka

Mereka sudah sangat sering melihat
Sebuah cahaya yang menyilaukan
Kemudian membias dan meluas menjadi beberapa bagian

Ada yang melihatnya kemudian buta
Ada yang melihatnya berkaca-kaca
Ada yang melihatnya sipit-sipit sirna
Ada juga yang hanya menutup mata

Pernahkah mereka melihat
Ikan yang tenggelam di daratan
Pernahkah mereka mendengar
Burung yang berkicau di lautan

Adakah bingung mereka lihat?
Apakah yakin mereka dengar?

Pernahkah mereka membeli
Kolam ikan yang dijual di pasaran
Pernahkah mereka menelusuri
Kandang burung dalam kapal selam



2 Januari 2015 18:30

Besar Di Lautan

Saat matahari tenggelam
Ia redup bersama bayangan
Saat cahaya bulan datang
Ia memuai terbawa angin malam

Meskipun tubuhnya mudah direbahkan,
Lidahnya menjulur peka rasa
Meskipun telinganya terisi pasir,
Lehernya kaku mati rasa

Adapun air laut,
Adapun ombak
Adapun pasir pantai,
Adapun garam 

Ia yang senang berselancar 
Ia yang tumbuh besar di lautan
Bukan di taman air
Bukan juga di taman Eden


15 Januari 2015 07:00


Sunday, December 28, 2014

Syukur

Ingatkan aku
Tentang keramaian dan kesunyian
Mereka yang selalu merantai kakiku diam-diam

Ingatkan aku
Tentang cermin dan lantai
Mereka yang selalu memangkas wajahku buram-buram

Ingatkan aku
Tentang simpul universal










Monday, November 10, 2014

Hati


Selamat pagi, Hati

Hati terisak pilu
Suaranya mengetuk ubun-ubun
Raga yang senang berkelahi
Hidup-hidup
Dengan bakal pisau belati

Hati tak terdengar isaknya
Rapi terbungkus gema Takbir
Dengan ragam simpul bertenaga 
Lisan yang senang bercumbu
Hidup-hidup
Dengan sabda mantra elegi 

Hati hanya ingin mengupas mangga hingga ke dalam bijinya
Pesona harum dan manis hanya silsilah
Mencicipi rasa legit atau pahit sikit
Dengan lidah yang terlahir hambar 
Dengan mata yang dimusuhi retina
Walau kulit kadang pancarkan inti
Sesekali akal intikan hati

Bagaimana jika hati tertidur pulas 
Dan nafaspun sulit berhembus

Jurang pun pasti ingin dijejali 
Agar tahu seberapa tinggi badan
Seberapa jauh kaki melompat
Seberapa kuat jantung berdegup
Seberapa luas mata memandang
Seberapa cermat akal menghitung


Sunday, November 2, 2014

Putih dan Hitam

Ada putih
Ada hitam
Apakah putih?
Apakah hitam?

Ada putih-hitam
Ada hitam-putih
Apakah putih-hitam?
Apakah hitam-putih?

Ada keluar
Ada masuk
Ada pergi
Ada kembali
Ada bibit persemaian yang sudah keluar 
Kemudian jelas parasnya janin
Sang ayah pergi membanting tulang
Kembali pulang larut malam untuk anak dan istrinya 

Ada cerah
Ada mendung
Ada pasang
Ada surut
Langit cerah seketika mendung
Bukan mendung seketika cerah
Sedang baik nasib para pedagang
Hingga karang terkikis tinggal bernama

Ada kaya
Ada miskin
Ada syukur
Ada keluh
Langit luas nampak biru menyelimuti bumi
Matahari, bulan dan bintang rupawan fungsi kekalnya
Menunduk dan melihat langit dari bias sisa-sisa air hujan di permukaan
Menguak susahnya lahir kembung di padang pasir

Ada mata
Ada telinga
Ada lidah
Ada akal
Memandangi cermin datar, cekung dan cembung
Mendengarkan ayat-ayat manusia dan Tuhannya
Kata-kata masyarakat kian hari kian menghujani api
Baik buruk rapi tersembunyi di balik rambut mengilap


Wednesday, October 22, 2014

Sesuatu

Saat aku berjalan mundur ke belakang,
Aku terjatuh menginjak sesuatu
Yang rupanya mirip batu kerikil
Ukurannya persis sama
Namun, teksturnya lembut
Seperti kain sutra milik Permaisuri
Hal tersebut membuatku tertidur pulas 
Hingga burung-burung datang 
Dan bersiul menyuruhku pulang

Kemudian,
Saat aku berjalan condong ke kanan,
Aku terpeleset menginjak sesuatu
Yang rupanya mirip buah pisang
Namun, warnanya cokelat kemerah-merahan
Seperti tanah merah yang dihujani air bandang
Dan akupun kembali tertidur pulas
Hingga angin jahat datang berhembus 
Menghempaskan tubuhku kembali ke rumah
 
Kemudian,
Saat aku berjalan condong ke kiri
Aku pingsan melihat sesuatu
Yang rupanya mirip kelelawar domba
Berwajah muram dan berasayap hitam
Namun, bertanduk dua dan berbulu ikal layaknya domba 
Dan seketika mata dan akalku menggelap gulita
Hingga terbit matahari datang
Sekujur tubuhku hilang tak berwarna
Menjadi manusia dengan wujud cahaya  

Meskipun demikian,
Aku masih tetap menjalankan tubuh transparan ini 
Ke arah jarum jam dua belas tepat
Yang terpampang di dinding kecil persegi panjang
Kali ini betul-betul bukan lagi duga sesuatu
Segala sesuatu sudah bercorak jelas
Segala sesuatu sudah bernama tunggal
Seperti fungsi juta bahasa yang menyembahyangi kepalaku
Yang pasti singgah karar di alam baka