Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Tuesday, June 10, 2014

Aku Memilih

​Aku pernah membaca beberapa ulasan dari Jean-Paul Sartre tentang filosofi hidup yang salah satunya berisikan kalimat "We are our choices." Begitu sulit memaknainya. Masih menggali-gali makna kalimat tersebut. Hingga setibanya aku di tengah-tengah di antara permukaan dan langit tua. Saat dilahirkan di Negeri yang sudah merdeka ini, orang tuaku memberikan nama putra pertamanya Indera. Aku pernah bertanya pada mereka, berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan namaku itu. Sambil menggenggam tangannya mereka menjawab, "dua puluh empat jam setelah lonceng pernikahan dibunyikan." Dan kini umur pernikahan mereka sudah menginjak angka yang ke enam puluh. Hal tersebut membuatku penasaran tentang berapa lama mereka memutuskan untuk menikah. Tanpa harus ditanya lagi mereka berkata sambil menyenderkan kepala satu sama lain, "empat tahun sebelum cincin bersemat ke jari manis." Sungguh manis bukan. Sangat bersemangat mendengarnya. Rasanya ingin mengulang kembali hari dimana aku menikah. Dan dengan membawa sebuah ideologi pilihan, pernikahan akan menuntun dengan bijak. Tanpa harus mempengaruhi subjektivitasku terhadap budaya pernikahan populer yang sedang berkembang. 
Di awal pernikahan, aku menikmati masa-masa itu meskipun hanya seumur jagung. Sehabis pulang kerja selalu ada permainan malam. Hanya sebatas permainan malam yang dapat dinikmati. Sebelum malam tiba yang dilakukan istriku adalah membawa pulang botol-botol minuman import. Ia adalah kolektor botol import kelas Teri. Buktinya tak sampai malam ia sudah tiba di rumah. Logisnya karena pernikahan baru disiagakan saja. Sebulan kemudian barulah ia naik ke kelas Kakap. Pulang dengan kantung mata setengah tertutup. Baju dan rambut porak poranda. Lantai rumah kadang dibuatnya berceceran sampah yang diolah oleh lambungnya sendiri. Benar-benar pahit kelakuannya. Sedikitpun aku tak mencintainya. Tak peduli juga yang sebaliknya ia rasakan. Beranjak bulan ketiga, ia pergi begitu saja entah kemana. Menghilang ditelan botol minuman. Kepergiannya sangat menusuk hati kedua orang tuaku. Karena mereka sendirilah yang menakdirkan pernikahan itu atas dasar dadu orang tua.
Di dunia pergaulan, wajahku sungguh berparas lebar. Sebagian teman-temanku berprofesi sebagai artis sinetron dan musisi kejar tayang. Sebagiannya lagi sebagai aktivis, penyair dan budayawan. Pembicaraan teman-teman artis dan pemusik cenderung fokus pada fashion terpopuler dan mobil sporty gaya Eropa. Namun, sebaliknya teman-teman idealis sosialisku lebih senang membicarakan nasib dan fenomena kehidupan. Bagi mereka, segala sesuatu yang sederhana sangatlah rumit. Ketika berada di kedua jalur tersebut aku nyaman-nyaman saja. Selalu menanggapi hal-hal rasional maupun tidak rasional yang mereka buat dengan positif. Sambil menggenggam perhiasan di balik tangan. Anehnya selama berada di dua kubu, perhiasan itu selalu tersembunyi dalam-dalam. Terkubur dari pandangan mereka. “Atau jangan-jangan bukan perhiasan? Atau mungkin cuma sekedar keragu-raguan?” Aku lemah tak berdaya. Setia dengan kecemasan. Dan terbawa mereka ke dalam arus ketidakpilihan. “Apakah ini yang dinamakan ketidaknyamanan?”
Kembali dibingungkan pada pilihan. Ketika dilibatkan dalam Pemilihan calon pemimpin akupun demikian. Teman-teman yang sebagian duduk di kursi politik coba mempengaruhiku. Si A lah yang terbaik karena tegas dan berwibawa. Sementara dari perspektif teman-temanku yang duduk di bangku hukum mengatakan si B lah yang pantas memimpin atas dasar kesederhanaan dan ketidakmelanggaran. Melihat fakta yang beredar, ternyata banyak di antara mereka yang bekerja sambilan sebagai Buzzer Politik untuk memenuhi kebutuhan Tersier. Tak jauh berbeda dengan politik di media populer, televisi. Masyarakat dihadapkan pada dua stasiun televisi ternama yang saling berlomba. Membicarakan calon pasangan mereka masing-masing. Media yang satu fokus mencitrakan pasangan nomor satu dan yang satu lagi fokus di pasangan nomor dua. “Apakah aku yang terlalu naif dan subjektif menilai media Posmodern ini? Atau mungkin hanya kebetulan saja timingnya?” Pada akhirnya, narasi polos Ayah yang berhasil membawa jari tengahku berpoleskan tinta biru. Ia hanya tak ingin orang-orang di sekitar rumah kesal melihat jariku.
Beruntungnya arus ketidakpilihan itu perlahan-lahan berhenti. Setelah aku mulai bekerja di rumah. Bekerja dari pagi hingga larut malam. Awalnya sangat sulit sekali. Bekerja sendiri dalam ruangan sunyi. Meskipun peghasilan materinya tak ada, aku rasa sah-sah saja. Masih sama-sama kerja sebutannya. Dan kini, teman-temanku adalah milyaran kata-kata. Coba bayangkan, aroma pekerjaan ini seperti bunga mawar. Kata dan makna mengalir dengan harumnya. Mencintai aroma mawar membuat egoku terjun mengapung di selokan. Beberapa kali ada saja orang asing datang untuk sekedar menanyakan kata-kata. Aku menjawabnya dan ia pulang meninggalkan uang. Pekerjaan yang bermanfaat bukan. Di samping itu, aku masih saja merasa melayang-layang di tengah-tengah, di antara permukaan dan langit tua. Pernah sesekali Ayahku yang sudah lanjut usia itu bertanya, "Indera, kamu toh sudah sarjana, kenapa hanya duduk di ruang kerja saja?" Aku menjawabnya, "Ayahku tercinta, maafkan aku, kelak aku pasti akan membawakanmu sebongkah permata, sekarang aku hanya dapat memberikanmu buku-buku tua saja." Ia langsung beranjak mendekat ke rak. Mengambil salah satu bukuku yang berjudul "L'Imaginaire." 
Saat ini, aku baru saja bangun dari tidur panjang. Membangunkanku, sinar matahari pagi masuk ke sudut ruangan. Sepertinya masih berada di ruang kerja. Aku ingin menyambut pagi yang cerah ini dengan secangkir kopi panas dan lagu-lagu lama. Cahaya pagi yang mempesona di sudut ruang. Aku menyegerakan bangkit melihati ruang dan pergi membuat kopi. Anehnya ada dua buah toples kopi yang sama namun berbeda isinya. Kubuat saja keduanya ke dalam dua cangkir yang berbeda pula. Kebetulan cangkirnyapun hanya ada dua. Dan ketika membuka laci tempat penyimpanan vinyl, aku hanya dihadapankan dengan dua buah piringan hitam. Sepertinya group band asal Amerika tahun 60an terpampang di pinggiran vinyl. Sayangnya, sama sekali tak ada nama band atau jenis musik keduanya. Dan tanpa basa-basi lagi keduanya kusetel bersamaan. Yang satu di turntable merek A, yang satu lagi di merek B. Sambil menyeruput kedua cangkir kopi panas dengan bersamaan, aku sangat menikmati dua musik yang saling bertabrakan. Dalam benakku terucap kata-kata, "Terima kasih Tuhan, aku sangat bersyukur atas banyaknya nikmat dan karunia yang Kau berikan untukku."

Tuesday, December 17, 2013

PSIKOPENA VOLUME 1: LISAN JUBAH


“Sebuah rantai baja!”
Ya, sebuah rantai tahan api berbentuk lingkaran sudah membelit kedua tanganku entah sejak kapan.
"Apakah sudah lama sekali aku duduk lusuh diatas ukiran batu tanpa alas?" cakapku dalam hati. Aku pikir memang begitu, karena buluku sudah tumbuh lebat disekujur wajah dan daging yang nampak seperti binatang melata di Afrika.  Sakit dan perih tangan ini. Kian lama kian menguliti lapisan luar hati. Keras sekali ikatannya sampai-sampai kepalaku mengambang di awan mengikuti arus rantai. Sakit sekali aku merasakan indera peraba yang terkurung. Tak bisa begerak leluasa seperti sedia kala.
Tempat ini sungguh kokoh dan bermotif, motif yang kuat akan wujud teknologi, teknologi yang kerap membawa diriku melayang di atas perabotan dan permukaan. Aku membayangkan hal-hal negatif yang sekiranya bisa membuatku bertekuk lutut di permukaan setengah angkasa ini. Kira-kira sudah berapa abad? Apa yang sudah ku perbuat kali ini? Sudahlah, aku tak ingin mengingatnya lebih dalam lagi, kali ini yang baru saja kuingat yaitu sebuah warna berwarna gelap, oh hitam! Hitam buram warnanya!
***
Aku merasa sangat bersalah dengan dunia fantasi ini. Aku belum bisa melakukan hal yang terbaik sebagai manusia yang sudah mengotori dunia. Tapi setidaknya aku sudah mengingatkan seluruh penjuru permukaan atas kebenaran yang terjadi. Kebenaran yang tidak akan membuat mereka semua tenggelam dalam api neraka. Walaupun demikian, nenek moyang dan seluruh keluargaku juga sudah lenyap tak tersisa. Kejahatan murka yang dilakukan mesin pembunuh terhadap keluargaku membuat jiwaku turun setengah gila. Aku tetap bertahan atas sebongkah ideologi yang ku punya. Bersama seorang pria setengah baya aku tinggal berdua di permukaan yang luasnya tidak terkira.
“Oh iya, aku bisa sampai lupa telah mengurungnya terlalu lama di tengah angkasa!”
***
Pemandangan di luar sepi, sunyi, dan tak ada jentik-jentik kehidupan, hanya ada bekas pembakaran. Gemercik api yang ku lihat dari dalam jendela yang letaknya mungkin 20 meter di atas tanah. Besi atau baja yang kusinggahi sepertinya kuat menahan bara api, namun panasnya api lambat laun makin membara, bergelora mengukus baja. Kakiku yang beku seketika nyaris terluka karna telanjang menapak baja di bawahnya neraka, baja kalah panasnya berasa. Rumah siapa yang sedang dilahap si jago merah di bawah, yang pasti bukan rumahku. Aku kepanasan tanpa keleluasaan. Mengeluarkan benih-benih mendidih, aku berteriak!
"Ada kebakaran di bawah sini, tolong!"
***
Pria itu ku temukan di Pusat Rumah Jiwa Angkasa beberapa saat sebelum semuanya terlambat. Sebenarnya aku sangat menyesal mengapa hanya satu jiwa yang ku beri nafas, hatiku perih mengucap asma.
Saat itu sungguh menyakitkan, hidup tanpa menonjolkan sebatang hidung di sebuah permukaan. Angin meniupi pakaianku yang lebar dan buram. Hatiku ikut bersih tersapunya. Membawa satu kepercayaan yang akan ku genggam dalam batin. Padahal aku berharap bisa berbagi naluri dengan siapapun. Tapi apa daya aku cuma wanita tanpa busana abad ini. Bahkan hanya beberapa hidung yang dapat menghirum aroma bungkus wanita yang ada pada diriku. Jubah ini laksana baja dalam tempurung, Tak ada yang menyamainya menjadi pelindung yang tak kenal burung. Ini adalah jubah hitam pelindung, pelindung dari segala kesesatan setan. Walaupun dia sudah pasti mengenaliku sebagai cinderella.
***
Akhirnya pemandangan buram itu kembali dan melepaskan dua genggam lingkaran baja. Jika bisa mengingat pasti aku sudah tau dari mana datangnya.
“Apakah aku menderita penyakit akut insomnia?
Aku sudah tidak sabar keluar dari tempat yang panas ini. Aku memang daging tapi tak bisa matang, batinkulah yang matang akan lahar panas.
Beberapa menit kemudian,
"Akhirnya aku bebas!" teriak bebas kemerdekaan.
Dalam suasana gemuruh panas aku berlarian mengelilingi putaran yang ada di ruangan. Aku sangat bahagia hidup bebas walau panas sedang mengganas.
Setelah sekitar 5 menit lari mengelilingi putaran, akupun sujud lemas. Tanganku yang bebas kini merengut kembali. Berteman dengan seutas tali tambang, dia menyeretku keluar menaiki komedi langit putar. Sebenarnya aku tidak ingin berteman, tapi sudahlah sepertinya dia hanya organisme berjubah hitam dalam cerminan imajinasi.
***
"Aku sudah memberi tahu semua orang bahwa mereka harus mengucapkannya!" Ucapan yang membawa mereka pada keselamatan.”
Pedihnya aku diludahi siapapun yang bersenggol lisan. Aku tak percaya hanya aku sebatang korek yang disuapi sebuah kepercayaan semacam ini. Dan aku tak pernah meragukannya sekalipun. Hingga suatu saat gugusan bintang berkunjung ke tata surya dan mengetuk bumi dengan lisan, maka aku segara menampakkan harga diriku di depan mata sang surya. Aku berteman dengan cahaya putih yang membungkusku hidup-hidup dalam sadisnya kematian. Aku menangis iba melihat semua penderitaan. Api itu tak pernah padam sebelum berteman dengan daging segar. Namun persis di hadapanku ada sebuah cahaya juga yang membungkus daging.
“Dia adalah satu-satunya dari milyaran orang yang mendengarkan dan mengikuti butiran lisanku, lisan yang membungkusnya ke dalam mewahnya kemilau cahaya.”
***
Jubah ini sedang membawaku mengelilingi permukaan lautan darah.
Ada yang salah dengan mataku, semua pemandangan kok merah!
“Ini tanah atau darah!”
Aku bukannya buta warna, hanya terkejut tak ada yang menimpuk batu ke arahku. Mungkin mereka sedang bersembunyi untuk bersiap mengoyah tubuh tanpa akal. Aku ingat kasus terakhir dimana aku memutilasi psikiater tua. Dia selalu menggoda warna otakku. Sudah tau aku tidak gila dan buta warna. Yasudah ku sileti saja kepalanya untuk membuktikan padanya bahwa warna otakku sama sepertinya. Dari kejadian pembuktian fakta tersebut aku mengaku sangat berdosa. Entah kenapa pembunuhan sadis tersebut memberikan sebuah pencerahan atas apa yang ku lakukan. Ini adalah hasrat pertama kali untuk sadar. Setelah itu aku diasingkan untuk diselamatkan dari konflik palsu dunia. Dan menetap bersama orang-orang tidak sejiwa di penjara setengah angkasa. Tapi aku tau, aku peka akan sesuatu! Sesuatu itu bukanlah hantu ataupun batu!
"Aku ingat! Sebelum sesuatu menimpa kehidupan, ada jubah yang menyuruhku untuk menyebut ucapan!"
"Aku tau dia nyata, bukan bayanganku melainkan jubah tanpa kelamin!"
Dia menggunjing batinku untuk mengucap kata-kata tak senonoh yang belum pernah ku dengar di bujur manapun. Dalam setiap maknanyapun pasti cukup kuat untuk mendefinisikan apapun. Namun tugasku memang hanya untuk melantunkan. Aku yakin dia bukan orang jahat karna seperangkap baja di tanganku sudah lenyap. Di satu sisi aku yakin dia adalah teman. Pakaian tak sedap dan sepat untuk dilihat. Tak paham dengan apa yang dia cemaskan, aku  ikuti saja sedikit lisannya. Mulailah bercengkrama kembali dengan sepasang lingkaran baja. Lingkaran ini berjalan tidak diam di tempat. Membawaku ke baja berbentuk lingkaran di pertengahan tanah dan langit kusam. Di luar sepertinya hujan batu! Suara dentuman bom juga terngiang runcing ke telingaku! Menusuk gendang menyakitkan! 
Untunglah ini baja, besi sekalipun tak akan mampu singgah untuk melawan keperkasaan sang baja perak. Lalu tanpa bisik gema dan gaya dia tiba-tiba pergi meninggalkan tempat kokoh ini.
“Oh aku kembali terjerat besi sendiri tanpa karat!”
***
“Andai saja aku bisa meluluhkan siapapun! Lisanku adalah sebuah kalimat hadiah untuk lantunanmu,” aku berkata layaknya orang gila.
Intinya siapapun yang dapat aku cengkram lisannya dengan kalimat sang pencipta adalah temanku kelak. Aku bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak. Aku juga bukan orang pertama yang berpijak di atas tanah cokelat. Mungkin bersamanya aku akan membangun bahtera rumah tangga. Rumah tangga yang kehilangan tetangga dan dipenuhi rasa iba. Suka atau tidak sebilah nyawa harus dilahirkan. Membawa kelestarian dari nenek moyangku. Pada akhirnya aku sangat bersyukur bahwa aku bisa melayang bebas dalam kesucian dunia tanpa bahaya, biaya dan bencana. Dan satu-satunya hal yang bisa kubanggakan sekarang ya jubahku ini. Penutup makna dari lisan yang suci.










PSIKOPENA VOLUME 1: AMAYAH


“Ngeng, bip, dor.....”
Aku senang sekali melantunkan ketiga irama tersebut dalam satu kombinasi acak. Terutama ketika aku sedang memegang mainan plastik berjalan seperti ini. Diselimuti oleh piyama biru, aku terus fokus pada segenggam plastik. Kemudian menjalankannya dengan sebelah tangan, dan aku keluarkan irama tersebut dengan pelahan dan bersamaan, dimulai dari ngeng, bip dan dor. Ketiganya merupakan simbol nyata atas realita di Ibu Kota. Percaya atau tidak, menurutku semuanya adalah mainan semata.
Aku berjalan menelusuri lorong panjang. Di sekelilingku terdapat banyak sekali mainan. Namun sudah ada pemiliknya semua. Sesekali aku berhasil mengutili beberapa. Tapi, lama kelamaan aku sadar untuk membuka mata dan hati. Sebenarnya apa yang sedang merengut jiwaku. Hingga tiba di ujung lorong aku menemukan seorang wanita paruh baya berseragam putih. Duduk di bangku sambil menulis.
“Boleh ku pinjam pulpennya mbak?” tanyaku pada wanita berkopiah .
“Tidak, pergi sana, mainlah dengan temanmu.” Jawabnya tegas.
“Tapi mbak, pulpen itu seperti kelaminku.” Balasku cepat.
Tanpa menjawab, dia lekas pergi ke dalam ruangan dan meninggalkan pulpennya. Tanpa banyak kata juga aku langsung mengambilnya dan lari ke dalam ruanganku. Ruangan itu bernomor tiga belas. Entahlah ini ruanganku atau bukan. Yang jelas aku sering bersemayam di sini. Dan kira-kira sudah hampir setahunan aku tinggal.
Sesampainya di ruangan, ku goreskan tinta yang ku genggam. Tembok putih ini seakan ingin berkencan dengan pangeran. Setelah penuh dengan goresan-goresan, tanganku mengepal kuat. Kepalan ini meluncur tepat pada goresan-goresan yang ku buat. Tanganku berkeringat darah dan mulutku menjerit kesakitan.
 “Siapapun tolong aku, sakit banget!”
Sambil menggunjing pertolongan aku masuk ke dalam goresan-goresan. Lebih jelas lagi, aku masuk lebih dalam, tepatnya ada tiga goresan bertuliskan ngeng, bip dan dor.
***
Aku tinggal di pinggiran Ibu Kota yang terletak di bagian timur. Awalnya memang aku tinggal di bagian barat. Namun keluargaku memaksa pindah atas dasar kepentingan keluarga. Aku memiliki seorang kakak yang cukup sukses dan adik setengah baya. Keluarga dengan satu wanita ini rasanya tidak bagus. Ibuku selalu mengidam-idamkan sosok anak perempuan. Sekiranya aku punya kekasih pasti langsung dijamahnya. Aku ingat ketika mantan kekasihku menyuruhku untuk memberitahu ibu supaya jangan menghubunginya lagi. Saat itu juga rasanya ingin ku robek saja bibir manisnya . Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengan wanita manapun.  
Di balik kecintaanku pada ibu, aku sangat membenci ayahku. Dia hanyalah seorang pemabuk berat. Meskipun semua kebutuhan sudah terpenuhi, tetap saja aku membencinya. Hobinya adalah marah-marah. Mungkin di setiap detik dalam hidupnya penuh dengan amarah dan alkohol. Kedua penanda yang tak bisa lepas dari hidupnya. Dan yang paling aku tidak bisa terima, sifat amarahnya itu menurun ke anak keduanya.
Setiap pagi aku berangkat ke kampus yang letaknya sangat amat jauh. Aku harus melewati kejamnya ibu kota di setiap paginya. Sebut saja asap kendaraan, polusi, sinar matahari, dan kemacetan lalu lintas yang melengkapi tiga tahunku. Sebenarnya aku sudah bosan dengan kemacetan. Setiap kali melewati Simatupang tubuhku tersendat dan melambat. Yang hanya bisa aku lakukan yaitu menoleh kebelakang karena sering kali tertabrak dari belakang.
“Kau punya mata terbalik atau dimana!” Sambil mengaitkan kepalanan.
“Dasar brandal, ikut saya ke kantor!” Menahan kepalanku yang gemetaran.
Sepertinya kesalahan bukan dari tubuhku, melainkan bapak berseragam yang menabrakku dari sisi belakang. Saat itulah mulai timbul perasaan bengisku terhadap manipulasi lalu lintas. Aku kehilangan identitas dalam proses interpelasi di lingkungan lalu lintas. Sering juga aku menaruh saran dan kritik di pos berseragam. Tetapi yang ada hanya membuang tinta dalam pena yang ku punya saja. Kemudian aku memulai hobi baru membunyikan klakson di keramaian. Bunyi tersebut merupakan simbol identitasku. Identitas yang terbentuk dari berbagai macam kesalahan.
Setibanya di rumah, saat aku sedang bersantai selalu saja ada kesalahan. Di musim hujan yang deras ini, rumahku tetap saja panas dipenuhi keringat. Keringat yang muncul akibat proses biologis dan psikologis. Sekalinya aku bosan, aku bisa saja menutup kamar rapat-rapat tanpa mendengarkan, beres kan. Satu-satunya amarah positifku yaitu berdampak pada sublimasi, yaitu celotehan tulisan dan gambar di dinding kamar.
 Rutinitas adalah tetap rutinitas. Rutinitasku sebagai mahasiswa selalu dimulai di pagi hari. Sekali lagi aku ingin bercerita tentang kebodohan lalu lintas. Ketika aku sedang mengantri hitungan di perempatan, selalu saja ada kejadian yang membingungkan. Aku menghitung mundur angka dua ratus. Setelah nol merah selesai ada saja garis merah tambahan. Dan di saat garis itu menghilang ada saja tangan yang menghalangi perjalanan. Sepertinya waktu mudah sekali dipermainkan. Ratusan orang yang kehilangan kesabaran mungkin sudah merasa putus asa. Tapi dengan amarah yang ku punya, aku tidak seperti demikian. Apapun alasannya, bagiku tidak ada pertimbangan untuk keadilan.
“Bip, Bip, Bip, lekaslah jalan pak!” Sambil melongok ke luar jendela. “Apa kau buta ada siapa!” Jawabnya dengan emosi.
“Pak tidakkah anda yang buta,melihat mainan yang sedemikian rupa!” Saking kerasnya suaraku mungkin membuatnya minggir dan membiarkanku menerobos ke depan.
Kemudian langsung ku tancapkan gas di depan barisan setengah jalan. Sambil berlanjut masuk ke dalam barisan, nampaknya aku sedang melihat banyak sekali mainan. Mainan yang pertama ku robohkan dengan sekali gas. Berlanjut ke mainan kedua yang pasrah begitu saja. Dan ketika sampai pada mainan ketiga aku kedapatan tidak seimbang. Meskipun mainan ketiga dapat ku jamah,  mobilku tergelincir dan menabrak tiang listrik! Saking hebat benturannya, muncul ledakan yang diakibatkan oleh bahan bakar yang menggelegar keluar!
Oh tidak! Apa sebenarnya yang terjadi!
Padahal niatku hanya untuk memberikan sedikit pelajaran pada barisan mainan!
 Sejenak aku bercakap sambil membayangkan amarah ayah yang sedang berkobar dalam belenggu api ini.
“Ayah, apakah amarahku salah? Bagaimana dengan amarahmu? Sudah jelaskah amarah yang kita punya berbeda arah? Saat ini amarahku sudah berbuah darah.”
***
Ternyata dinding ini bukan hanya tergores oleh tiga goresan saja, masih ada beberapa goresan bersemayam di sampingnya.  Aku mencoba untuk lebih mencermatinya, garis demi garis. Garis ini terpisah satu sama lain. Sepertinya harus ku hubungkan terlebih dahulu baru dapat ku cerna maknanya. Pelan-pelan aku menggeser tinta. Titik demi titik, garis demi garis. Sepertinya akan memunculkan sebuah alasan. Tentunya, alasan tentang keberadaanku tinggal di tengah-tengah orang setengah waras.
Sambung-menyambung menjadi satu, itulah yang ku temukan. Hasil dari penyatuan tersebut berbuah gambar, bukan tulisan. Sejak kecil aku memang lebih menyukai gambar dibandingkan tulisan. Dan gambar yang pertama sepertinya adalah sebuah mobil.
“Apakah ini mobilku?”
Melanjutkan gambar yang kedua, itu seperti sebuah tiang yang memiliki tiga kepala di atasnya, dan kepala paling atas tercoret buram.
“Lampu lalu lintas, sudah  jelas!”
Gambar yang terakhir menunjukan pemandangan sekelompok orang yang di batasi oleh tiga garis lurus. Sepertinya gambar yang satu ini sangat membingungkan. Ku coba untuk membandingkan dan saling mengaitkan. Pasti rangkaian ini membentuk sebuah alasan. Aku masih belum menyerah mencoba menerka-nerka.
“Apakah sekeruman orang ini adalah teman-teman yang meratapiku dari kejauhan? Tapi tidak mungkin, aku tidak suka mencari kawan! Apakah hanya orang-orang iseng yang iri dengan kemewahan lalu-lintas? Lebih tidak mungkin lagi! Oh tuhan tolong beri aku jawaban. Aku muak tinggal di tempat yang gaduh, aku butuh sebuah kehangatan! Setidaknya meskipun hilang ingatan aku diberitahukan sebuah kebenaran, ah!”
Tubuhku bergemuruh dan lisanku menggelegar atas pembicaraan bodoh yang menelaah sebuah gambar rekayasa. Sambil memukuli gambar dan meneteskan air mata kebencian, aku menjerit sekeras-kerasnya.
“Aku tidak amnesia!”
“Tidak pula menerobos lampu merah!”
“Aku tentu tidak buta warna!”
“Aku juga tidak menabrak sekelompok orang tua!”
“Yang aku tahu, aku cuma membenci amarah ayah!”










PSIKOPENA VOLUME 1: INDRA PERABA





Aku bahagia sekali ketika sedang meraba. Apapun yang sudah ku raba pasti menggugah selera. Sekiranya ada jutaan lapak yang sudah ku raba. Dimulai dari sesuatu yang lembut hingga yang merenggut nyawaku. Bagiku ini adalah satu-satunya surga. Meskipun pernah mendengar mitos bahwa surga ada di telapak kaki ibu, tetap saja meraba adalah surgaku. Aku tidak pernah membayangkan surga selain indera peraba. Karena yang aku tahu aku hanya bisa meraba.
Saat ini aku sedang duduk di kesunyian malam. Tempat ini sepertinya sepi sekali. Di tempat ini, ada beberapa benda yang sudah ku raba. Benda yang berbentuk sebuah persegi panjang seukuran jari tengah tangan dan kotak sabun. Aku pernah meraba kotak sabun hadiah dari tetangga lama. Persis sekali dengan benda ini. Namun setelah ku robek bungkusnya isi di dalamnya berbeda. Isinya seperti sebuah jari yang rata ujungnya. Meskipun kotaknya lega namun isinya hanya sebuah. Mungkin benda ini sudah habis tepakai dan hanya tinggal sisanya. Aku sama sekali belum pernah menemukan benda ini. Andai aku bisa menciumnya pasti bisa lebih lega. Tetapi mau bagaimanapun aku terus mencoba membandingkan kedua benda ini. Yang satu sebilah jari dan yang satu lagi dua bilah jari. Yasudahlah aku anggap saja menjadi tiga buah jari.  
Daripada terus membayangkan, ku lumat saja satu persatu. Yang pertama ku lumat adalah yang paling kasar bentuknya. Mungkin ini semacam plastik berujung besi. Besi yang berbentuk sepertiga bulat dan agak kasar. Lidahku yang tak bertulang sedikit tergores setelah menjilatnya. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan saja bahwa ini bukan makanan. Dan satu-satunya alasan mengapa aku senang meraba ya hanya karna makanan. Sayang sekali jika ini bukan makanan.
Lanjut pada benda yang kedua aku sedikit lebih penasaran. Bentuknya seperti panjang batang kemaluan yang tipis, lembek dan mudah sobek. Ciri-cirinya nampak seperti makanan. Tapi sepertinya bukan, soalnya sedikit memilukan ketika masuk ke tenggorokan. Ujung bawah dan atasnyapun berbeda. Yang atas mudah sobek dan yang bawah seperti busa. Atau bisa saja terbalik. Agak sulit membayangkan benda yang ujungnya kian berbeda. Seperti membayangkan perbedaan bulan dan bintang. Sesekali aku pernah mendengarkan keindahannya. Namun hanya sebatas imajinasi aku bermimpi di lautan angan-angan. Banyak orang yang bilang mimpi kelak menjadi kenyataan. Nyatanya untukku mimpi itu membosankan. Penuh harapan yang menggiurkan. Aku benar-benar muak akan harapan.
Teringat pada kejadian setahun lalu, ketika aku terbangun di sebuah jalan. Sinar matahari pagi menyinari jalan. Sepertinya sudah jam sembilanan. Aku tahu hal tersebut karena tubuhku mulai merona kepanasan. Seringkali kedapatan merasakan orang berjalan lalu-lalang, aku merasakannya seperti getaran gempa yang ringan. Kadang aku memberhentikan langkahnya demi menghilangkan rasa penasaran atas alas yang mereka gunakan. Pernah sesekali aku mendapatkan hadiah sepasang alas. Namun rasanya tidak seperti demikian. Sampai ketika ada lelaki muda yang menjelaskanku alas dari sebuah harapan.
“Dik kamu biasa dimana?” tanyanya padaku. “Dimana-mana tuan.” Jawabku.
“Kau seperti aku yang tak pernah kenal jalan. Tahukah kau aku sudah diludahi sepanjang jalan. Bodohnya aku tidak dapat melawan. Mungkin karena aku sulit memakai alas dan pakaian, alas yang ku pakai hanyalah sebuah harapan.”
Sambil mendengarkan cerita harapannya, aku merasakan ada hembusan udara yang tidak biasa. Aku tahu ini bukan hembusan nafasnya. Tekanannya cukup menyadarkanku. Meskipun tidak bisa merasakan bau, aku sadar telah menghirup udara kasar. Aku pernah menghirup asap tak segar ini ketika ada sekelompok orang yang berteriak kebakaran. Tapi tekanannya terlalu kuat mendorong pernafasan. Jika dibandingkan dengan ini masih terlalu lembut dan hanya sedikit lebih kasar. Aku bertanya kepada lelaki muda itu, “Apakah harapanmu dikelilingi oleh hembusan asap?”. Sambil menyodorkan jarinya ke mulutku dia berkata, “Hisaplah, kemudian hembuskan perlahan, seketika harapanmu akan menggelora seperti baja.” Detak jantungku yang cepat menurun drastis. Irama jantungku perlahan melambat juga. Ketenangan yang baru pertama kali ku rasakan. Dan pikiranku lega tanpa beban. Dipenuhi bayangan dan berangan-angan, aku berimajinasi tentang harapan.
“Tolong beri tahu tuan, inikah sebuah harapan?”
“Ini hanyalah sebatang alat pemicu harapan, satu-satunya teman yang menemaniku berjalan mengelilingi pahitnya kehidupan. Hidup gelandangan tanpa pakaian namun penuh harapan di pinggir jalan.”
“Beri aku sebuah nama, maka aku akan mengingat dan mencarinya dengan indera peraba yang ku punya,” kataku penasaran.
Tanpa mendengar sebuah jawaban dia meninggalkanku sendirian. “Tuan, tuan, tuan!” begitulah sedikit pengalamanku tentang harapan.
Kembali melumat sebatang jari di mulut aku mulai sadar. Inilah alat pemicu harapan yang pernah aku hisap. Setahun lamanya aku telah memalingkan wajah. Sebatang, bukan sebilah! Aku mulai mengenal aroma sebuah harapan!
Aku mencari tahu kembali meraba dua buah jari yang saling berdempetan. Ku gesekan besinya dengan jempolku secara perlahan. Sepertinya gesekan ini membuat dia bergerak. Pelan-pelan seperti ada yang berubah. Dan akhirnya muncul sedikit percikan yang membuat jariku kepanasan. Aku tau ini bukan kayu bakar. Nampaknya ini adalah alat untuk membakar. Beberapa kali menggeseknya aku mendapati kehangatan dan kerinduan akan sebuah harapan. Aku tau apinya bisa menimbulkan asap jika ku arahkan ke sebuah benda kertas. Kertas yang sedikit kasar masuk ke tenggorokanku. Mungkin itu bisa membakarnya!
Ku taruh sebatang jari yang ujungnya tumpul di mulutku. Ku posisikan alat pembakar segaris lurus dengannya. Kemudian percikan api mulai membakarnya perlahan. Dan muncullah gumpalan asap di depan hadapanku.       
 “Hahaha, akhirnya harapanku datang!”
”Lihatlah tuan aku sudah menemukan!”
Aku kaget dan berteriak kegirangan. Sambil membolak balik sebatang jari, mulut dan jariku mengeluh kesakitan. Tetapi walaupun kesakitan aku tetap saja berteriak kegirangan. Dentuman jantungku menurun perlahan dan harapanku mulai berdatangan. Akhirnya aku menemukan posisi yang pas layaknya berteman dengan sebuah batang. Di pandangi langit dan bintang, aku terus saja berteriak akan harapan, 
“Aku ingin memiliki kekasih sepertimu tuan.”
“Meskipun tak berpakaian kau telah mengenalkanku arti sebuah harapan.”   
“Lebih dari itu, aku ingin menjadi seperti dirimu, tuan.”
“Berjalan tanpa arah, dipenuhi angan-angan.”
Hisapan demi hisapan masuk ke dalam rongga pernafasan. Aku menikmatinya sebagaimana aku bisa menikmati kehidupan. Aku bersyukur sekali bisa memiliki indera peraba. Meskipun tidak menemukan makanan aku telah mengakhiri rasa penasaran. Dengan segumpal asap tebal yang menemaniku aku makin bersyukur. Kini aku memiliki teman yang memberikan sebongkah perhiasan. Perhiasan yang membawaku memikirkan mimpi yang awalnya ku anggap begitu membosankan. Aku sadar betul bahwa mimpi itu sangat menkjubkan. Dan setelah berteman dengan gumpalan asap, aku tau kemana harus melangkah. Sambil memikirkan sang Tuan, aku melucuti satu persatu pakaian yang ku kenakan. Mungkin aku sudah tergila-gila dengannya. Sampai ketika dimana asap itu berhenti berhembus aku masih memikirkannya. Dan ketika percikan apinya sudah menghilang aku menyegerakan untuk mencari langkah sang tuan.

PSIKOPENA VOLUME 1: CERMIN PENULIS


Aku adalah seorang penulis....
Aku dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi seorang penulis. Pada dasarnya aku hanya bisa bekerja untuk menulis. Menulis dan hanya menulis di seluruh waktuku yang terus membatu. Namun aku menulis bukan sembarang menulis. Aku menulis sambil melukis tangis. Taukah kau apa yang selama ini ku tulis? Lantas untuk apa aku melukis tangis?
Tulisanku mencakup hal-hal baik yang sangat mendetail. Aku ditakdirkan berteman dengan sepucuk pena untuk mencatat sesuatu secara detail. Di setiap detikku aku selalu menggenggamnya sebatang kara. Bentuknya yang tak bisa kalian bayangkan membuatku ingin menyembunyikannya dalam brangkas baja saja. Pena ini begitu spesial untukku. Tanpanya aku hanya angin yang tertiup bersamaan hembusan debu dalam kegelapan. Bahkan aku tak pernah mengenal makan. Perutku selalu kenyang dipenuhi buah penaku sendiri. Menurut kalian apakah aku hanya tinggal sendiri bersama sebatang pena?
Tentu tidak, dalam penulisan mengenal istilah bagi sebuah obyek apapun yang ditulis oleh si penulis.
Obyek penulisanku ini sungguh fantastis!
Fokus hanya pada satu obyek dan tidak akan mengganti obyek sampai obyekku benar-benar terurai. Sebelumnya aku juga sudah bersumpah pada atasanku bahwa aku akan setia menemani obyekku sampai suatu saat nanti tiba. Suatu saat nanti? Jangan tanya kepadaku soal waktu, tanyalah pada atasanku.
Aku sering tertegun memandang keindahan satu-satunya obyek yang ku tulis. Rambutnya hitam, pendek seleher, lurus terurus dan helaiannya membuat hatiku damai. Wajahnya yang manis menimbulkan tulisan ini begitu rapi. Tanpa coretan palsu sedikitpun. Perasaan setiaku padanya sudah tak dapat dipungkiri. Aku jatuh cinta padanya sejak artikel pertama. Namun sayangnya aku ditakdirkan untuk tidak peka akan cinta dan kasih sayang.
Tahukah kau hal lain yang sangat ku suka darinya?
Pekerjaan kita memiliki makna yang sama. Ketika menulis seolah-olah aku sedang berkaca di depan cermin. Seolah-olah aku berakting jadi dia. Aku tidak pernah membawa cermin saat bekerja. Cermin ini bercahaya menggelora dengan tulisan tangannya yang tak kalah mewah dengan sebongkah panah. Menusuk jantungku ke dalam tulisannya. Tulisannya adalah sebuah penanda, penanda bahwa dia adalah aku dan aku adalah dia. Seringkali aku mengutili namaku sendiri di akhir tulisannya. Meskipun kerap kali hanya mencatat celotehan konyol. Aku tahu dibalik cermin itu tersimpan sejuta pesona.
Lantas pesona apa?
Pesona adalah sesuatu yang sangat indah. Saking indah pesona tulisannya membuatku iri. Dan hanya bisa menggandrungi satu obyek di sela-sela jemariku. Salah satu tulisannya berjudul Nyawa Punya Siapa, sebuah tulisan fantasi yang menelusuri tentang insting kematian. Memang sih obyekku lebih menawan. Lewat tulisan-tulisan kematiannya dibandingkan dengan wajah cantiknya. Namun aneh saja gadis secantik itu bisa memikirkan sesuatu yang melewati batas logika lewat sebatang pena. Meskipun hanya dikenal sebagai subyek fantasi dalam telaah sastra. Berbagai sumber yang dia gunakan cukup relevan. Memaksa pembaca berpikir lebih dalam. Sedalam nyawa yang berkelana ke dalam jurang ketika membacanya.
Membaca memang sebuah rutinitas nyata dibandingkan dengan menulis. Hingga waktu itu tiba detik-detik ketika dia meneteskan tinta terakhirnya dan memulai aktivitas membaca. Akupun kehilangan ratapan sebuah cermin yang asli.
Saat itu ketika umurnya tidak lagi berkepala dua dan tidak juga berbadan dua serta lebih suka berkata-kata tanpa pena, kemudian membaca adalah hobinya.
“Apa yang kau tulis sebenarnya? Aku bukan cermin jadi tak usah ikut menulis”   
“Dari dulu aku sudah menulis, tidak sepertimu, hingga saat ini tiba, aku berhenti.”
Dia melucutiku dengan sejumlah pertanyaan yang membunuh!
Instingnya kian kuat akan kehadiranku disampingnya. Buah cermin penasarannya kali ini hanya ditujukan padaku. Walaupun dia sering bersaksi bisu kepada rekan seperjuangannya, dia selalu mencoba memberitahu tentang keberadaanku dalam cermin.
Inilah mengapa di awal aku bilang melukis tangis!
Wanita yang ku idam-idamkan kini berbalik bangga akan sosok pencatat yang setia. Di saat senja tiba, dia selalu membaca kitab acuannya. Terus membaca hingga kegelapan datang dan menyelimuti bintang-bintang. Sepertinya itu adalah satu-satunya rutinitas yang membuka sebagian inderanya untuk menelanjangi sebagian badanku. Sayangnya hal seperti demikian hanya berlangsung sebentar. Sebelum dia tak bisa lagi berhenti tertawa dan berteriak seperti orang gila.
Aku paham betul akan niat dan obsesinya untuk membongkar realita. Namun mungkin saat melakukan aktivitas membaca dia kurang menerka arti sakralnya. Kesakralan itu sudah diadopsi oleh atasanku sejak aku memulai karir untuk menulismu, gadisku. Faktanya sekarang kau lebih sering mendendangkan syair kematian. Dalam keramaian lalu tintas, sambil menadahkan kedua tangan aku melukis tangismu tempo itu:
“Hai kalian, hidup di tangan kanan, mencatat kebatilan, aroma kemenyan, tanda keabadian, proyeksi masa depan, tahukah kalian, cermin kelalaian!”
Meskipun polisi lalu lintas kerap menggapainya, tak sepatah katapun bisa dihindari di pemberhentian lampu jalan:
“Tuhan, kalian adalah tuhan, kalian itu tuhan, memang benar kalian tuhan, jangan kau ragukan cermin tuhan!”
 Tak lama, sebuah ambulan datang menjemput dan membawanya dengan tangan tersilang baja. Jeritan demi jeritan tentang tangan kanan tak henti-hentinya diletuskan. Aku sangat merindukan sebuah cermin yang membelah lautan. Hatiku bergetar melukiskan kesedihan dan keterbelakangan. Ia sedang menghadapi kenyataan di atas kerasnya matras penjara. Mungkin tetesan tinta terakhirnya bisa ku pahami pesonanya. Sebelum datang sebuah  keterbelakangan dalam logikanya, aku membaca beberapa pucuk tulisan jenaka.
 “Di kamar yang redup ini, aku bersaksi bahwa aku hanya mengadopsi dua tangan untuk menulis dan terus saja menulis. Aku memang dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi seorang penulis yang fokus pada satu obyek. Aku hanya bisa mempekerjakan tanganku untuk menulis. Menulis dan hanya menulis di seluruh waktuku yang terus membatu. Namun aku menulis bukan sembarang menulis. Aku menulis sambil melukis tangis.”
“Taukah kau apa yang selama ini ku tulis?
Lantas untuk apa aku melukis tangis?”
Bersamaan dengan pena yang ku genggam, aku langsung disadarkan oleh dimensi waktu. Dan waktu ini sepertinya sudah terikat menjadi jalinan peristiwa kuat yang mungkin pernah ku alami. Mungkinkah dia bisa mencontek catatan sakralku? Apakah tulisanku mudah untuk ditiru?
Sambil menulis, tanganku bergetar melihat seorang gadis yang terbujur kaku....
Sambil menahan isak tangis, ingin rasanya aku menatap ke sekujur tubuh yang kian membeku....
Sambil membaca tetesan tinta terakhirnya, aku meratapi kesamaan pena yang kita punya....
“Pekerjaan kita memiliki makna yang sama. Ketika menulis seolah-olah aku sedang berkaca di depan cermin, seolah-olah aku berakting jadi dia.”
“Tulisannya adalah sebuah penanda, penanda bahwa dia adalah aku dan aku adalah dia. Aku tahu dibalik cermin itu  tersimpan sejuta pesona.”
“Saking indah pesona tulisannya membuatku iri dan hanya bisa menggandrungi satu obyek di sela-sela jemariku.”

PSIKOPENA VOLUME 1: PENGHUJUNG JALAN


 Apakah benar aku sudah gila?
Benarkah kali ini aku memang gila?
Kekosongan! Itulah yang kurasakan! Mataku seolah menahan emosi dengan hati dipenuhi api dan ribuan penyesalan. Anehnya tidak sedikitpun suara terdengar dari dalam hati. Kepala seperti kapas putih ringan tanpa beban. Mulut tertutup rapat seperti terjahit kawat duri. Tubuh ini berdiri tegak layaknya seorang prajurit Nazi yang siap tempur.
Aku sedang menjadi segumpal daging yang bingung bukan kepalang tertahan oleh sebuah gejolak luar biasa. Gejolak yang besar untuk menemukan sesuatu. Sepertinya hanya otakku yang bekerja tanpa upah mengingat alunan peristiwa. Jutaan-selnya masih bekerja dengan baik menguatkan memori demi memori. Semakin lama mencoba mengingat, semakin banyak yang tergambar bisu di pikiranku. Sebut saja sekumpulan kata-kata menjijikan abad ini masih melekat jelas di kepalaku. Tetapi, apakah aku adalah orang yang suka melantunkan sapaan jajanan seperti itu.
Kemudian ingatanku menuju pada suatu pola dimana aku menghabiskan waktu seperti bunga yang bersemi sepanjang tahun. Di sebuah rumah sederhana yang saling berdempetan dengan rumah lainnya di sepanjang jalan itu. Meskipun demikian, banyak pepohonan rimbun yang tumbuh mengelilingi jalan. Layaknya hutan belantara di sebuah jalan. Mungkin jalan itu hanya muat dilewati oleh satu mesin beroda empat. Ujungnya juga tak tau mengarah ke jurang mana. Yang jelas di sepanjang jalan itu angin selalu bertiup sepoi-sepoi di sore hari. Rembulan dan bintang-bintang berbaris layaknya soneta Shakespeare di malam hari. Dan di siang hari terik matahari membakar rindangnya dedaunan. Satu hal lagi yang tak terlewatkan, di pinggirnya terdapat rerumputan dan tanah merah yang merona ketika hujan turun. Hal tersebutlah yang menusuk rapih memoriku pada penghuni di depannya. Tapi ketika memaksa untuk mengingat siapa namanya, oh aku tidak bisa!
Otakku sekejap lenyap dimakan memori!
Saat itu aku sedang bersamanya duduk di sebuah sofa yang indah. Bermotif cokelat kekuningan dengan rajutan kehangatan di sekitarnya. Aku yakin dia sosok yang sangat amat  kucintai karena endusanku atas sofa mungil yang hangat itu. Di luar rumahnya udara sangat dingin. Lengkap dengan panorama bintang kecil dan dawaian binatang kecil. Ternyata jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Entah apa yang sedang kita diskusikan, tiba-tiba saja dia mengusap kedua mataku dengan telapak kosongnya yang lembut itu.
Selembut perasaannya kepadaku,  dia mengusapnya penuh cinta. Akupun semakin bersyukur bisa mencintainya dengan segenap baja yang hidup kokoh di hati kecilku. Sepuluh kali usapan perlahannya memberikan pandangan baru.
Tetapi mengapa harus sepuluh usapan?
Pandangan sekejap ringan tanpa beban, udara di sekelilingku mendadak bernada minor. Seperti ada suara banyolan binatang. Aku sadar dan mengira bahwa banyaknya hewan mainan tak jelas di sepanjang jalan ini terlalu senonoh. Walaupun mata ringan namun kuping pengang tidak karuan. Ada sesuatu yang baru hadir. “Ah paling cuma perasaan!” aku berkata sambil memegang tangan kekasihku yang licin. “Aku sudah bilang lebih baik jangan dilakukan sayang!” Seru kekasihku. Sebenarnya dia sangat ketakutan tapi dia menguatkan sambil memelukku erat-erat layaknya sebuah senjata di dadanya. Hari semakin malam, aku segera menyegerakan diri untuk pulang ke rumah. Rumahku tidak jauh dari sini jaraknya cuma sepertiga cintaku padanya. Layaknya perjalan ke Roma menuju cinta.
Sudah semalam ini di sepanjang perjalanan pulang masih saja banyak kemaluan penduduk Ibu Kota. Wajar saja Ibu Kota yang dipenuhi dengan konsumerisme kemaluan jalanan bukan pendidikan. Banyak pilihan jajanan malam pinggir batas jalan yang tersedia di setiap sudut remang-remang. Kebetulan juga aku melewati tiga batasan daerah dalam kota yang menakjubkan. Tetapi bukan itu yang menyorot pikiranku secara berkepanjangan. Ada sesuatu yang terus mengikutiku dari awal perjalanan pulang. Sepertinya sosok diriku telah terbelah menjadi dua bentuk dan lebih besar. Kerap kali aku melihat kebelakang sosok itu sirna. Menghilang secepat kilat dari tempat duduk lega di belakang. Oh tuhan apakah aku merindukan jajanan atau efek dari Dunhill yang sedang ku bakar.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dengan tubuh terkujur lelah tanpa arah. Pikiran kosong membuatku melamun sebentar sesaat sebelum memejamkan mata. Mata yang bungkam atas bualan kekasih tentang wajah mengerikan itu memberikan sejumlah peryataan logis tentang kejadian saat pulang. Tak logisnya sekarang sosok itu berubah menjadi harimau bertubuhkan manusia dengan cakar pisau, Wolverin! Mataku sepat melihat Wolverin, aku lari ketakutan menjauhinya sampai pada penampakan sebuah lubang sumur lega. Bukan sekedar lubang sumur, di atasnya ada tiang hitam menjulang tinggi pantas untuk menggantung. Lebih tepatnya tiang gantung yang di gunakan untuk mencekik nyawa tanpa mata. Tapi kenapa ada lubang air kuno dibawahnya?! Dan yang lebih tidak masuk akal lagi, ada kekasihku melambaikan tangan dari kejauhan. Jauh sekali dan semakin jauh tubuhnya tidak tampak. “Apakah harimau itu sudah menggoresnya? Mencongkel satu matanya? Mata siapa yang ada di genggamanku?!.” Sambil berteriak keras aku jatuh longsor dari atas tempat tidur.
Badanku lemas sekali dipenuhi angan-angan dan lamunan yang siap untuk membunuhku. Kamarku menjadi sangat panas, padahal aku tidak pernah lupa menekan tombol on setiap masuknya. Yang biasanya maksimal 16 derajat menciut begitu saja membasahi tubuh yang sudah biasa membeku. Yang biasanya terpampang The Beatles kali ini aku menemukan beberapa sahabat baru yang cukup memenuhi asmara di kamar. Sosok yang benar-benar baru dalam hidup dan tak pernah ku temukan sebelumnya, “Ah! aku terlalu larut dalam lamunan?!. 
Sahabat, begitu aku memanggilnya meskipun tidak bisa berbicara langsung padanya. Setidaknya aku bukan orang yang sedang sakit jiwa. Kebetulan aku adalah seorang mahasiswa sastra yang sedang meneliti masalah kejiwaan. Jika aku bisa gila karna lamunan semalam, kepribadianku sudah sulit dideskripsikan. Seakan terguncang gunung emosi yang berbau magma membakar ego yang sudah tidak ideal. Dan mungkin bisa dibilang superegoku jauh melampaui batas id. Di mana popularitas hidup menjadi orang melek dalam sangkar. Terlintas di benakku wajah Freud dengan taringnya. Selayak harimau yang siap menghisap darah mangsanya. Lengkap dengan cakar pisau yang sengaja dibuat untuk mencongkel mata para pendosa.
Hidup menjadi suram dengan penglihatan buram, buram akan nafsu dunia yang biasa menemani kemanapun aku pergi jajan!.” 
Sekarang aku sedang menambahi taring di buku teori kepribadian Sigmund Freud karangan Ferdinand Zaviera milikku yang terpampang jelas wajah Freud. Aku mencoba mengubahnya dengan muncratan tinta menjadi sosok harimau. Padahal di sebelah buku itu ada cerpen horor The Black Cat karya Edgar Allan Poe. Sungguh janggal mengapa harus buku teori yang aku obrak-abrik. Padahal ada cerpen urakan di sebelahnya. Sahabat karibku spontan berkata, “untungnya hanya nampak wajah sebahu, jika ada lengannya habis sudah buku ini kau lucuti seperti jajanan.” Persis saat itulah ibu berjubah dengan kacamata dan lelaki sembrono paruh baya membunuhku dengan peluru tanpa pistol dan cemohan asal-asalan. Aku tau si sembrono yang kritis itu adalah sahabat karibku. Namun hal tersebut tidak mengurangi belas kasihanku sedikitpun. Aku ingin secepatnya mencekik omong kosongnya di depan kemaluan wanita berjubah yang sering tertawa karna lucunya dunia. Bagiku dunia tidak lucu. Bahkan kelucuan itu baru muncul ketika melihat jubahnya tertiup angin dan merosot ke dalam lubang gantungan setan! Sepanjang waktu, hari demi hari, inilah yang terjadi. Terus menerus membanjiri kodratku, ah!
Sudah seminggu lamanya sahabatku melucuti dan menelanjangi pikiranku. Sudah seminggu juga tak dapat kabar dari gadisku, gadis yang ingin ku congkel matanya hingga mengeluarkan darah dan daging sisa. Serentak tubuhku refleks bersiap untuk pergi ke sebuah jalan di perkampungan. Perkampungan yang damai, sunyi, banyak dedaunan, dan terkenal kemerahan datarannya. Warna kemerahanlah yang telah membuat terkenalnya jalan itu.
Tidak lama kemudian nampak lagi tiga perbatasan yang suram akan pendidikan. Dan dengan beraninya aku sodorkan kata-kata menjijikan abad ini lewat jendela terbuka. Air murka dari mulutku ikut terbang ke arahnya. Menjadi sebuah lawakan khusus untuk sahabatku. Sahabat yang setia mengikutiku sambil melotot. Mulutnya kian berbusa menusuk alam bawah sadar tempat aku bersujud dan meminta doa. Aku bukan tipe orang yang suka memakai narkoba. Merokok saja pun kadang aku masih minta si sembrono. Lantas mengapa harus aku yang terbawa hitamnya dunia?!
Sesampainya di tanah berwarna merah kuparkirkan kendaraan lusuhku tepat di atasnya. Hujan deras turun mengantarkanku untuk melangkah ke sebuah rumah yang harumnya gemulai. Tempat singgah bidadari bukan jenaka. Dadaku bergetar bagaikan sebilah pisau yang tertanam di saku. Masuk menembus organ pernafasan. Tanpa harus mendobrak pintu lagi  penunggunya sudah siap menyambutku dengan tatapan dan senyum ambulan. Biasanya aku membalasnya dengan rayuan jajanan. Kali ini aku sudah terbelenggu oleh debu kotor pantulan. Padahal hari ini sudah kubulatkan untuk mencongkel mata sang bukan jenaka. Tetapi, keceriaan ambulan senantiasa selalu menghantuinya selama berdenyutan denganku.
Terus menghantui meskipun dia telah membawaku ke dalam perangkap menjijikan ini, “Apakah kau tak sadar dengan semua lautan omong kosong ini?!,” bentakku lantan padanya dengan buta. Kemudian aku masih saja meneriakkan cacian dan makian penuh dosa, “Usapanmu itu! Usapan yang membawaku ke neraka!.” Sekejap gadis cantik itu langsung menangis tanpa bisa beracun dan masuk ke kamar dimana dia bersembunyi dengan para sahabatnya.
Wanita yang sudah hampir empat tahun ngekost di sela-sela jemariku kini jeritannya sangat kuat mengiris perih telinga dan masuk ke lorong hati sang pujangga. Aku sakit terpojok sebagai seorang pria yang menjunjung tinggi Patriarki, dan atas kemaluanku sendiri. Walaupun insting kehidupan tidak bisa melampaui perasaan cinta yang tulus seperti bengkuang. Wanita menawan itu mungkin sudah benar-benar tidak ingin melihat apalagi berbicara dengan pangeran berjubahnya sendiri.
Dosa besar atas cinta dan persahabatan, omong kosong aku telah menamai kejadian ini!” teriakkan yang hebat diselimuti lebatnya hujan. Namun di satu sisi, dari situ aku tau bahwa aku bukanlah orang gila karna aku masih bisa merasakan gejolak cinta padanya.
Tak tau kenapa mata tajam yang ada di kantongku tiba-tiba menyayat pangkal jari manisku. Ia berbicara dengan parutan matanya yang menyusut semakin tajam! “Tidak sahabatku jangan melihat! Satu jariku telah terlepas.” Disambut dengan darah yang mengucur deras tanpa mengenal rintik, namun tidak juga sederas sungai adopsi Musa. Aku tidak henti-hentinya memanggil sahabatku!
Oh tidak apakah aku akan mati di sini! Di atas tanah lembek, benyek, cerah nan merah!” Sambil menghentakkan si mata tajam aku seakan bersujud kepada sang pencipta, sujud lamunan bukan memohon ampunan, melainkan hujatan dan cacian ketidaknyamanan sesosok makhluk hidup!
Mungkin sahabatku akan senang jika ini menjadi buah tangan terakhir untuk gadisku, “Dialah yang mengenalkanku padamu” ocehku dalam pertikaian hujan dan persahabatan.
Kebetulan  hujan semakin deras aku langsung menguburnya di tanah bercorak darah di depan kediaman itu, “Itulah ku bilang tanah yang mengucurkan darah saat hujan!.”
Derasnya hujan dengan gemuruh petir membawa aku berjalan menelusuri ujung tanah. Dengan manisnya darah sahabat ku sepertinya ingin tahu apakah ujung jalan ini bisa mengobati keperihan ujung jariku.
“Sahabat, aku bertaruh separuh jiwaku!
Empat tahun sudah aku menginjakkan kaki, tak ada apapun disana.
Ia semakin kuat mengajakku pergi ke ujung jalan. Seperti sosok ibu yang sering mengajak anaknya bertamasya keliling kota. Aku terus berjalan dan berjalan dengan kuyubnya hujan demi mencari semenanjung jalan hutan. Bisa saja jalan ini buntu atau mengarah pada sebuah jurang.
Jurang apakah bersedia tinggal di muka yang datar?.”
Dengan santainya aku berjalan sambil meratapi perasaan sekumpulan binatang kecil yang lemah dan tak berdaya. Tersapu hujan dan tak bisa memoroskan badan dalam kehangatan, “mengapa sekumpulan binatang!,” aku terus saja membanjiri lautan jalan dengan perkataan tak sedap. “Setengah nyawa yang kugenggam,” aku mengingat kembali suara binatang yang menghantuiku minggu lalu.
Mereka hidup di pikiranku!.
Sekarang sudah tumbuh leluasa menguasai alam bawah sadar, “tempatku memanipulasi batin, Tuhan, hanya jantung yang ku punya untuk menggerakan tubuh ini, selebihnya binatang itu!.”   
Hingga selanjutnya ternyata aku sudah berakhir di penghujung jalan. Jalan tempat berakhirnya ajakan sahabatku itu. Obsesi jalanan sahabatku yang liar itu. Tanpa adanya jajanan apa-apa selain daging yang berdiri kaku dan tegak layaknya pembeli palsu yang memegang saku. Selayaknya ruangan di tempat ini memang betul remang-remang namun terlalu redup cahayanya. Tidak ada aroma jajanan yang melekat sama sekali, bahkan semacam bau udara juga tak ada. Dan aku juga tak menemukan daratan yang datar sekalipun. Aku juga tak menemukan jari manisku yang telah terkubur merahnya tanah!
Aku berdiri tinggi tanpa alas dan pembatas. Tanpa awan dan rembulan. Oh Tuhan sangat menakjubkan! Jadi inilah akhir dari ujung jalan itu. Akhir yang sangat ku tunggu-tunggu yang membuat sahabat jajananku yang setia itu penasaran. Sahabat yang sekarang sudah meninggalkanku di ruangan lega tanpa duka. Sahabat yang membawaku kepada cerobohnya malapetaka! Sahabat yang bungkam akan peristiwa! Sahabat yang belum terkuak! Sahabat malam yang dikenalkan oleh kekasihku!
Saat ini, di tempat ini aku sudah tidak bisa merasakan lembutnya cinta lagi. Yang dapat kurasakan hanyalah sejempol pikiran yang sedikit membantu mengingatkan perbuatan-perbuatan jalanan. Saat ini aku hanya tinggal sendiri di penghujung jalan namun sepertinya bukan jalan dan bersama mulut yang tertancap duri.
Bagiku ini adalah kehidupan yang sesungguhnya. Tempat dimana hati tidak bisa bicara. Tidak akan ada lagi yang namanya cinta. Setidaknya aku bersyukur sudah tidak bertemu lagi dengan sahabat jajanan yang seperti itu. Saat ini aku sudah lega dan sangat yakin bahwa aku sudah gila.